Home » Skandal Proyek Pembuatan Bak Air Minum Pompa Hidram oleh TNI Diduga Mubazir di Desa Golo Munga Barat

Skandal Proyek Pembuatan Bak Air Minum Pompa Hidram oleh TNI Diduga Mubazir di Desa Golo Munga Barat

by Media Nuca

MEDIA NUCA – Pembuatan bak air minum pompa hidram oleh TNI di Desa Golo Munga Barat, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur menjadi sorotan karena adanya dugaan pemborosan dan ketidaktransparan dalam proyek tersebut. Skandal ini menimbulkan pertanyaan mengenai sumber anggaran, kualitas pekerjaan, dan pengelolaan proyek yang tidak tepat.

Pada awalnya, proyek pembuatan bak air minum pompa hidram dilakukan oleh anggota TNI tanpa diketahui sumber anggarannya. Selama pengerjaan, tidak ada papan informasi yang dipasang, dan pekerjaan terkesan asal-asalan.

RT Wae Rambung mengungkapkan bahwa proyek ini dimulai sejak tahun 2021, tetapi warga tidak pernah mendapatkan manfaat dari bak air minum yang dibangun oleh TNI. Meskipun air pernah mengalir dalam uji coba selama satu minggu, penggunaan alat yang tidak memadai menyebabkan pengaliran air menjadi tidak berlanjut. Warga juga tidak mendapatkan informasi yang memadai mengenai proyek ini, termasuk sumber dana yang digunakan.

“Sejak tahun 2021 lalu kami tidak pernah tahu bagaimana rasanya air minum pompa hidram yang dikerjakan oleh TNI itu. Waktu itu pernah diuji coba memang airnya berjalan, tapi itu cuma selama satu minggu saja karena waktu itu mereka menggunakan pipa dari ban motor saja. Jadi, waktu itu kami mendapatkan informasi dari mereka karena ada alat yang kurang dibawa,” jelas Ketua RT Wae Rambung pada Selasa (27/6/2023).

Setelah dilakukan pemantauan oleh media, terungkap bahwa pekerjaan pembuatan bak air minum tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan. Salah satu anggota TNI yang terlibat dalam proyek tersebut mengklaim bahwa proyek pompa hidram sudah selesai. Namun, ia menjelaskan bahwa tanggung jawab TNI hanya mencakup pembangunan bak penampung, sementara pipa penghubung bak penampung dengan masyarakat menjadi tanggung jawab desa setempat.

“Oh iya adek, untuk pompa hidram di Desa Golo Munga Barat dan Desa Nampar Tabang sudah selesai dikerjakan adek. Kami kerja dari bak primer sampai bak penampung saja, dari bak penampung ke masyarakat bukan tanggung jawab kami. Itu kami serahkan ke desa,” ungkap anggota TNI tersebut.

“Anggaran yang kami kerjakan hanya untuk bak penampung di mata air sampai bak penampung saja, adek. Dari bak primer atau bak penampung menuju rumah masyarakat itu, kami serahkan ke desa. Prosesnya di desa, kami tidak tahu. Pokoknya kami sudah selesai kerja dan sudah diserahkan ke desa untuk mengatur lebih lanjut.”

Kepala Desa Golo Munga Barat, Bapak Damab Buwono Ketar, juga memberikan klarifikasi terkait proyek ini. Ia mengakui bahwa proyek pembangunan pompa hidram belum selesai dan ada alat pompa hidram yang rusak. Ia menyatakan bahwa dirinya tidak membuat video ucapan terima kasih karena menurutnya, air harus benar-benar mengalir ke dalam bak sebelum serah terima dilakukan.

“Menurut saya, proyek ini belum selesai karena di Desa Golo Munga Barat masih ada satu alat pompa hidram yang rusak. Selama ini, kami berupaya untuk memperbaiki pekerjaan tersebut. Saya juga tidak membuat video ucapan terima kasih karena menurut saya, penting bagi kami bahwa air benar-benar mengalir ke dalam bak sebelum kami melakukan serah terima,” ungkap Bapak Ketar.

Kepala Desa juga mengungkapkan bahwa ia masih menunggu kabar dari Mayor Vinsen sebelum melanjutkan proses proyek ini.

Dalam konfirmasi dengan Babinsa Lamba Leda Utara, Bapak Hermawan, diketahui bahwa Babinsa tidak terlibat dalam proyek pembangunan pompa hidram di Desa Nampar Tabang dan Desa Golo Munga Barat. Babinsa hanya menerima laporan mengenai proyek di Desa Golo Munga Barat, yang baru mencapai 80-85%.

“Memang saya adalah Babinsa, tetapi saya tidak terlibat dalam proyek pembangunan pompa hidram di dua desa, yaitu Desa Nampar Tabang dan Desa Golo Munga Barat. Saya hanya menerima laporan mengenai progres di Desa Golo Munga Barat, yang saat ini baru mencapai 80-85%. Pada saat itu, air memang mengalir. Saya diperintahkan untuk melanjutkan pengecekan air dan memeriksa logo Udayana,” ungkap Babinsa melalui pesan WhatsApp pada Kamis (29/6/2023).

Lebih lanjut, Babinsa Hermawan mengakui bahwa masyarakat di kedua desa tersebut belum dapat menikmati air secara penuh, hanya ada pengaliran air untuk acara-acara pesta. Bak air yang bocor menyebabkan air tidak dapat mengalir ke rumah-rumah warga.

Meskipun sudah dilaporkan, teknisi yang bertanggung jawab belum datang untuk memperbaikinya. Babinsa berharap agar air dapat mengalir sehingga masyarakat dapat menikmatinya.

“Masyarakat belum dapat menikmati air secara penuh, hanya dialirkan saat ada acara pesta. Setelah kami cek, ternyata ada bak air yang bocor. Kami melaporkannya beserta dokumentasi. Sudah dua kali kami dan masyarakat menunggu kedatangan Teknisi, tetapi belum ada kehadirannya. Harapan kami, bersama masyarakat Wae Rambung dan Kawak, adalah agar air dapat mengalir sehingga masyarakat dapat menikmatinya,” tegasnya.

Selain itu, terungkap bahwa ada tanggung jawab yang belum jelas terkait proyek ini. Kepala Desa Golo Munga Barat menyatakan bahwa fasilitas bak atau pipa belum terpasang sepenuhnya, dan hal ini menjadi tanggung jawab desa. Namun, ia juga mengakui bahwa dirinya belum melakukan serah terima proyek tersebut karena air belum mengalir ke bak penampung. Sampai saat ini, belum ada konfirmasi dari pihak berwenang mengenai situasi ini.

“Menurut saya, pekerjaan instalasi air minum belum sepenuhnya selesai. Fasilitas bak dan pipa masih belum terpasang dengan baik, dan ini menjadi tanggung jawab desa. Namun, saya belum melakukan serah terima proyek ini karena air belum mengalir ke dalam bak penampung. Kami masih menunggu kabar lebih lanjut dari Mayor Vinsen sebelum melanjutkan proses ini,” ungkap Kepala Desa Golo Munga Barat.

Saat diwawancarai, Safrudin selaku tim teknis pekerjaan bak air minum pompa hidram di Desa Golo Munga Barat, menolak memberikan tanggapan dan meminta untuk melakukan konfirmasi terlebih dahulu dengan atasannya. Dia juga meminta waktu selama tiga hari ke depan dengan alasan memiliki urusan keluarga yang harus diselesaikan.

“Maaf, saya tidak dapat memberikan tanggapan saat ini. Saya perlu melakukan konfirmasi dengan atasanku terlebih dahulu. Dan saya meminta waktu selama tiga hari ke depan karena saya memiliki urusan keluarga yang harus diurus,” katanya kepada wartawan pada Rabu (28/6/2023).

Skandal proyek pembuatan bak air minum pompa hidram oleh TNI di Desa Golo Munga Barat semakin mencuat. Dugaan pemborosan, pelanggaran prosedur, dan masalah-masalah yang timbul telah menimbulkan keraguan terhadap transparansi dan efektivitas proyek tersebut. Masyarakat setempat masih menantikan tindakan konkret dari pihak berwenang untuk memperbaiki situasi ini dan memastikan bahwa proyek ini memberikan manfaat yang nyata bagi warga.

Liputan dari: Aristo Jeling

Editor : AD

You may also like

Leave a Comment

TENTANG KAMI

MEDIA NUCA berfokus pada isu-isu politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Media ini bertujuan untuk menyajikan informasi yang relevan dan berimbang dari tingkat internasional, nasional, hingga tingkat lokal.

Feature Posts