Home » ‘Pet Blessing’ dalam Gereja Katolik, Apa Itu?

‘Pet Blessing’ dalam Gereja Katolik, Apa Itu?

by Media Nuca

MEDIA NUCA – Buka suara menanggapi viralnya pernikahan mewah sepasang anjing bernama Jojo dan Luna yang menuai banyak kritik terutama karena dinilai melecehkan budaya Jawa dan Gereja Katolik, pemilik hewan dan penyelenggara upacara itu, Nena dan Valen, menyebut itu hanya ‘pet blessing’ biasa (pemberkatan hewan) yang lumrah dalam Gereja Katolik.

“Pemberkatan (yang dilakukan Romo) kemarin itu bukan pemberkatan pernikahan anjing ya, mohon digarisbawahi,” kata Valen kepada media, Senin (17/7/2023).

“Ini pemberkatan hewan peliharaan, di agama Katolik, setiap tanggal 4 Oktober itu di gereja memang hewan peliharaan, tanaman itu diberkati oleh Romo, karena untuk menghormati Santo Fransiskus Asisi yang memang dia pecinta hewan peliharaan dan tanaman, begitu,” jelas Valen.

Meskipun begitu, kedua pemilik anjing ini tetap meminta maaf kepada Umat Katolik atas kegaduhan tersebut yang dianggap telah mencemarkan Gereja meskipun mereka mengaku peristiwa ini telah secara luas disalah mengerti sebagai “pemberkatan nikah” anjing. Padahal apa yang terjadi hanyalah ‘pemberkatan hewan’ biasa yang lumrah dalam Gereja Katolik.

Pemberkatan Hewan dalam Gereja Katolik

Bagi orang bukan Katolik, pemberkatan binatang mungkin terkesan baru. Apa sebetulnya ‘pet blessing’ itu?

Dalam Gereja Katolik, pemberkatan hewan adalah hal biasa. Ini merupakan bagian dari tradisi. Kebiasaan ini merupakan warisan semangat Santo Fransiskus Asisi (orang Kudus dalam Gereja Katolik) yang terkenal dengan kecintaannya pada hewan seperti yang diungkapkan dalam Canticle of Creatures-nya.

Upacara ini biasanya dilakukan pada hari raya Santo Fransiskus Asisi, setiap tanggal 4 Oktober. Pada hari raya Santo Fransiskus Asisi banyak orang membawa hewan peliharaannya ke gereja untuk diberkati dan didoakan melalui doa lisan dan percikan air suci.

Dikatakan bahwa di antara banyak hal luar biasa lainnya, Santo Fransiskus dikenal karena kecintaannya pada hewan dan kemampuannya yang luar biasa untuk berhubungan dengan mereka. Dikatakan bahwa dia memperlakukan hewan dengan sangat hormat, cinta, dan perhatian. Legenda mengatakan bahwa Santo Fransiskus bahkan berkhotbah kepada hewan tentang kasih dan perhatian Tuhan bagi mereka.

Oleh Gereja Katolik, teladan itu kemudian dikemas dalam liturgi khusus untuk memberkati hewan, yang secara tajam menggarisbawahi karya penciptaan dan kesalingtergantungan antar ciptaan.

Tradisi tersebut termasuk dalam Sakramentali, yaitu benedictiones invocative, bahwa berkat yang diberikan tidak mengalami perubahan status dan tujuan dari yang diberkati. Hewan yang diberkati imam tidak berarti menjadi hewan suci, melainkan memperoleh karunia rohani, seperti perlindungan dari Allah, yang dimohon oleh Gereja melalui ibadat atau upacara Sakramentali.

Upacara ini oleh Gereja diharapkan dapat menjadi awal dan sebuah latihan untuk mencintai semua makhluk hidup dan mengambil peran dalam mengupayakan keutuhan ciptaan. Umat melalui ini diajak untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan hidup sebagai wujud iman. Gereja Katolik mengimani bahwa Tuhan mencintai tumbuhan dan binatang.

Melansir Hidup Katolik, dalam Kitab Kejadian Bab 1 disebutkan, Tuhan menciptakan bumi dan semua makhluk “baik adanya”. Firman “baik adanya” berarti, semua diciptakan dalam rencana kasih Tuhan. Oleh sebab itu, setiap makhluk itu berharga, mempunyai martabatnya sendiri-sendiri. Maka tujuan pemberkatan hewan dan tumbuhan sesuai sabda Yesus dalam pesan perpisahan kepada  para muridnya ialah: Agar manusia mewartakan kabar baik kepada segala makhluk (Mrk.16:15).

Di sini, prinsip memelihara ciptaan berarti juga mengontrol atau mengelola hidup bersama. Mencintai hewan dan tumbuhan bisa dilakukan secara tidak langsung dengan memelihara lingkungan sebaik mungkin. Tujuannya, agar semua makhluk yang tinggal di dalamnya bisa hidup dengan baik. Contohnya, mengurangi pemakaian plastik dan menaruh sampah dengan benar.

Menghargai hewan dan tumbuhan bukan berarti manusia tak boleh memakan daging hewan dan tumbuhan. Tuhan menciptakan semua makhluk saling tergantung, juga dalam pengertian bahwa sebagian diciptakan untuk menjadi makanan yang lain.

Dalam keyakinan itu, manusia bisa memakan sebagian hewan dan tumbuhan. Hanya, dalam hal ini, manusia tidak boleh membunuh hewan secara sewenang-wenang atau demi kesenanganya, tidak boleh menyiksanya. Hal ini dalam rangka memenuhi panggilan Tuhan agar manusia memelihara ciptaan dengan baik.

Gereja Katolik Tidak Membenarkan Pernikahan Hewan

Romo Frumen Gions, OFM pengajar moral perkawinan STF Driyarkara, dalam wawancara melalui channel Youtube Fransiskus Channel 67, turut memberi tanggapan. Ia mengatakan bahwa ada dua istilah berbeda yang dicampuradukkan begitu saja dalam pemberitaan media terkait pemberkatan hewan ini, yakni kata “pemberkatan” dan “pernikahan”.

Ia menyebut ada perbedaan antara “pemberkatan” dan “pernikahan”. Gereja Katolik tegas soal itu. Pernikahan yang dibenarkan dalam hukum Kanonik Katolik ialah pernikahan antar-manusia, bukan antar-binatang betapapun kita mencintai binatang. Sementara “pemberkatan” hewan peliharaan adalah hal biasa dan lumrah dalam Gereja Katolik secara khusus dalam tradisi Fransiskan (sebuah ordo dalam Gereja Katolik Roma).

Pembawa acara dalam video podcast itu juga menyebut bahwa romo Lorenzo yang namanya disebut dalam peristiwa viral itu setelah dikonfirmasi, mengaku diundang ke acara tersebut untuk “pemberkatan” hewan, bukan “pernikahan” sepasang anjing itu. Jadi, ada salah kaprah istilah yang berujung penilaian yang tidak tepat sasaran dalam kasus yang viral ini, terutama dalam judul-judul berita media daring, bahwa seolah-olah ada “pemberkatan pernikahan sepasang anjing” oleh seorang romo Katolik.

Romo Frumen juga menggarisbawahi makna “pemberkatan hewan” (pet blessing) dalam tradisi Gereja Katolik. Ia menjelaskan bahwa pemberkatan hewan tidak bermaksud mengangkat mereka dalam posisi yang setara atau melampaui manusia. Pemberkatan hewan, menurutnya, adalah bentuk kecintaan kita terhadap sesama ciptaan, tetapi tidak pernah dapat menggantikan cinta terhadap sesama manusia.

Bertolak dari situ Romo Frumen lantas mengambil kesimpulan bahwa jika yang sebetulnya terjadi dalam peristiwa tersebut adalah “pemberkatan binatang” dan bukan “pernikahan” sepasang anjing, maka tidak ada yang salah.

Doa Pemberkatan Hewan

“Terpujilah Engkau, Tuhan Allah,

Pencipta semua makhluk hidup.

Pada hari kelima dan keenam penciptaan,

Engkau memanggil ikan di laut,

burung di udara dan hewan di darat.

Engkau mengilhami Santo Fransiskus untuk memanggil semua binatang

saudara laki-laki dan perempuannya.

Kami memohon pada-Mu untuk memberkati hewan-hewan ini yang berkumpul di sekitar kami.

Dengan kekuatan cinta-Mu, memungkinkan makhluk-makhluk ini—saudara dan saudari kami—untuk

hidup sesuai dengan rencana-Mu.

Semoga kami selalu memuji-Mu atas keindahan ciptaan-Mu.

Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah kami, dalam semua ciptaan-Mu! Amin.”

You may also like

Leave a Comment

TENTANG KAMI

MEDIA NUCA berfokus pada isu-isu politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Media ini bertujuan untuk menyajikan informasi yang relevan dan berimbang dari tingkat internasional, nasional, hingga tingkat lokal.

Feature Posts